alah satu persiapan yang perlu dilakukan kaum perempuan menjelang
berangkat haji adalah mengatur siklus haid atau datang bulan, agar
lancar mengikuti semua kegiatan. Pengaturan siklus haid dilakukan
minimal sebulan sebelum berangkat.
Kalau tidak diatur, keluarnya
darah akibat datang bulan akan membatasi kegiatan kaum perempuan di
Tanah Suci. Beberapa kegiatan seperti thawaf, salat dan membaca Al Quran
tidak boleh dilakukan saat perempuan sedang mendapatkan siklus bulanan.
Agar
tidak mendapatkan haid selama rangkaian kegiatan haji, para jamaah
perempuan bisa menggunakan obat-obatan yang tentunya harus di bawah
pengawasan dokter. Obat yang digunakan umumnya mirip pil KB yang berisi
hormon progesteron, atau kombinasi esterogen dan progesteron.
"Obat
mana yang digunakan, itu nanti dokter yang menentukan berdasarkan hasil
pemeriksaan. Tiap orang beda, jadi tidak seperti kacang goreng yang
semua orang bisa pakai," kata Dr Hj Dwiana Ocviyanti, SpOG(K) dalam
simposium Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)
di RS Cipto Mangunkusumo, Kamis (13/9/2012).
Cara mengatur siklus haid umumnya dilakukan dengan 2 cara, yakni dengan cara menunda atau mempercepat.
Menunda
haid adalah cara yang lebih sering dilakukan, sedangkan memajukan haid
umumnya hanya dilakukan bagi perempuan yang memiliki siklus bulanan
lebih dari 35 hari.
1. Menunda haid
Untuk
menunda haid, obat yang digunakan bisa berupa pil berisi hormon
progesteron maupun kombinasi. Jika menggunakan pil kombinasi, maka yang
dipakai hanya pil aktifnya saja sedangkan yang berisi obat kosong atau
plasebo tidak diminum atau dibuang.
Cara ini paling ideal dimulai
pada hari kedua hingga kelima sejak haid terakhir, atau
selambat-lambatnya 14 hari sebelum hari pertama dimulainya siklus haid
berikutnya. Penggunaan pil dihentikan segera setelah penundaan tidak
diperlukan lalu haid akan datang 2-3 hari sesudahnya.
2. Memajukan haid
Obat
yang digunakan dalam teknik ini adalah pil progesteron, yang dimulai
pada hari kelima haid dan dihentikan 3-5 hari sebelum masa haid yang
diinginkan atau setidaknya hari ke-19 haid. Jika memakai pil kombinasi,
maka harus dimulai pada hari kedua haid.
Secara umum, pengaturan
siklus haid dengan menggunakan pil hormon seperti ini aman digunakan
pada perempuan yang dinyatakan sehat berdasarkan hasil pemeriksaan
dokter. Pengaturan haid dengan hormon tidak dianjurkan pada kondisi
tertentu seperti misalnya riwayat stroke, kekentalan darah tinggi dan
punya tumor di rahim.
Selain itu, harus diperhatikan juga bahwa
pengaturan haid sifatnya hanya sementara untuk kebutuhan jangka pendek
misalnya untuk memperlancar ibadah haji. Idealnya haid tidak dituda atau
dimajukan lebih dari 1-2 minggu, sehingga lamanya siklus tidak mendapat
tidak lebih dari 40 hari.
"Bahaya sih tidak, ya paling kalau ada
(efek sampingnya) itu misalnya perdarahan bercak. Tapi bagi yang
memiliki riwayat stroke atau masalah dengan pembuluh darah, beberapa
hormon bisa membuat kekentalan darahnya meningkat," terang Dr Ocvi.
sumber: www.detik.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar