Pada suatu ketika, dunia kerja dan kehidupan pribadi adalah hal yang
terpisahkan. Kerja adalah pergi pagi, pulang petang. Tentunya, ada saja
para penggila kerja yang tak bisa pulang tepat waktu, atau mereka yang
pulang kerja pun harus membawa 'PR sekoper'.
Tapi, hanya
segelintir saja yang seperti itu, dan lebih penting lagi, mereka
melakukan pekerjaan tengah malamnya sendiri, tanpa gangguan email,
instant messaging dan lain-lain. Memang biasanya, pekerjaan dibawa
pulang ke rumah agar bisa diselesaikan tanpa gangguan.
Tapi
dunia saat ini sungguh berbeda. Beberapa tahun ini kita sudah sering
mendengar istilah 'Konsumerisasi' -- yaitu ketika individu membawa
perangkat terbaru dan tercanggih mereka, program yang handal serta
situs-situs yang bermanfaat sebagai bagian dari dunia kerja.
Di
balik fenomena ini adalah masalah harga. Ketika gadget jadi makin murah,
pengguna akan membelinya -- apalagi jika rekan sekerjanya menggunakan
perangkat sejenis.
Kita juga melihat hal serupa seputar layanan
cloud dan aplikasi mobile, yang sudah semakin murah dibandingkan
software tradisional, begitu murahnya sampai banyak orang membeli hanya
sekadar untuk mencobanya. Bahkan ada yang mengadopsi model 'freemium',
yaitu layanan dasarnya digratiskan dengan layanan tambahan dikenai
biaya.
Meskipun divisi TI mungkin kesal, dan tentu saja ada
masalah keamanan akibat penggunaan di luar kendali ini, ada kesan bahwa
hal ini sudah tidak bisa dihindari lagi. Faktanya, teknologi personal
berkembang lebih cepat -- jauh lebih cepat -- daripada teknologi
korporat.
Berusaha mengendalikannya tak akan menghentikan orang
melakukan itu. Jadi, meskipun tak ada organisasi yang mengajukan
kebijakan "semau-maunya", kebanyakan sudah menerima fakta bahwa
teknologi yang "sesuai kebijakan perusahaan" adalah hal yang kuno.
Bagi
perusahaan, tantangan terbesarnya bukan soal perangkat, layanan maupun
aplikasi (yang sebenarya hanya alat), tapi soal bagaimana data
dimanfaatkan dan orang melakukan pekerjaannya. Ambil contoh Dropbox,
sebuah piranti sinkronisasi dan berbagi file yang sebenarnya sederhana.
Namun
belum lama ini, Dropbox tak sesederhana itu lagi, karena mereka
melakukan perubahan pada Terms of Service untuk mengatakan bahwa mereka
memiliki hak atas apapun yang disimpan di server mereka. Tim Dropbox
segera melakukan klarifikasi atas perubahan ini. Meski demikian, ini adalah contoh betapa rumitnya hal-hal seputar layanan untuk konsumen.
Melihat
sepintas pada berbagai terms and condition (T&C) di banyak layanan
online menunjukkan kerumitan sejenis. Contohnya Yammer, sebuah platform
kolaborasi, memang tidak mengklaim hak pada konten yang melalui layanan
mereka, tapi tampaknya menawarkan hak itu pada perusahaan yang
menyediakan jaringan di mana konten itu berjalan.
Ini harusnya
jadi peringatan bagi siapapun yang mengerjakan situs klien. T&C
situs sosial terkenal dengan ketidakjelasannya soal privasi, meskipun
situs semacam itu bisa dilarang di lingkungan perusahaan, upaya
pelarangan ini butuh konfigurasi yang berbeda untuk setiap pengguna
perseorangan.
Mungkin, kebijakannya harus berbunyi, "Jika Anda
berbagi data korporasi menggunakan aplikasi atau layanan yang tidak
diperbolehkan, maka hentikanlah." Tapi, kemungkinan besar orang akan
tetap melakukan itu, terutama karena penggunaan peranti semacam itu
memudahkan pekerjaan mereka dibandingkan menuruti 'cara-cara usang'.
Dengan kata lain, pernyataan kebijakan yang sederhana dan mencakup
semua, bukanlah respons yang baik.
Bahkan jika layanan semacam
itu diterima dan dikendalikan dari perspektif bisnis, di sisi lain hal
ini memungkinkan kehidupan korporat merasuk ke kehidupan pribadi.
Piranti online seperti Yammer atau Skype bisa dipasang di perangkat
apapun -- mereka hanya butuh login dan password.
Serupa dengan
itu, layanan email dan berbagi lewat Exchange atau Sharepoint juga bisa
diakses nyaris dari manapun, artinya, komputer di rumah bisa berubah
jadi gerbang ke perusahaan.
Saat ini kita baru mulai berusaha
memahami apa dampak hal-hal tersebut. Penelitian yang dilakukan
cenderung terfokus pada tingginya harapan karyawan muda.
Pekerja
yang konon tidak melihat garis batas yang tegas antara pekerjaan dan
rumah. Jika hal ini berlaku untuk jangka panjang, artinya batasan antara
teknologi yang dipakai untuk kerja dan di rumah akan makin kabur.
Jika
kita melihat lagi faktanya, ini adalah soal orang dan data. Meskipun
kebutuhan orang untuk kelenturan dan keragaman makin sulit dipenuhi,
satu hal yang tak bisa diganggu gugat adalah soal data. Kita tak akan
pernah mencapai suatu masa ketika data pasien atau pembicaraan pribadi
di ruang rapat, misalnya, boleh dibocorkan.
Meski demikian, kita
sudah jauh meninggalkan masa-masa sekadar melarang. Kita harus sampai
di satu masa di mana kita sadar bahwa tidak semua data bernilai sama.
Bagi perusahaan yang mencari jalan untuk melewati ladang ranjau dunia TI
masa depan, memahami nilai dan risiko dari data adalah tempat yang
bagus untuk memulainya.
*) Penulis, Darric Hor, Country Director Symantec Indonesia.
sumber: www.detik.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar