Lupakan sejenak harga batubara yang jatuh. Abaikan dulu meredupnya
daya saing Indonesia, atau lepaskan kerisauan pada lemahnya daya serap
pasar Eropa dan Amerika Serikat.
Menarik melihat kondisi bisnis
dalam negeri. Banyak bisnis yang cukup atraktif untuk digarap. Bisnis
ritel, makanan, minuman, misalnya, tetap memesona. Begitu pula dengan
bisnis logam mulia serta otomotif dan komponen otomotif. Semuanya
berkibar seperti umbul-umbul dibelai angin.
Bisnis lain yang tidak
kalah mengilapnya adalah properti, baik skala kecil maupun besar.
Grup-grup besar lantas membangun proyek-proyek raksasa di DKI Jakarta
dan sekitarnya. Geliat itu tampak pula di Bandung, Makassar, Medan,
Surabaya, dan sekitarnya. Gencarnya pembangunan proyek baru itu sejalan
dengan meningkatnya permintaan pasar. Grup Agung Podomoro, Ciputra, Alam
Sutera, BSD, Summarecon seolah berlomba membangun superblok atau sentra
hunian baru.
Adapun di Surabaya, Grup Pakuwon terus melakukan
ekspansi karena kuatnya permintaan pasar. Plaza Tunjungan yang sudah
mencapai tahap empat diperluas sehingga muncul Plaza Tunjungan tahap
lima dan enam. Di atas atau di sisi mal itu dibangun gedung multifungsi
55 lantai dan 50 lantai. Bangunan itu akan menjadi gedung tertinggi dan
kedua tertinggi di Surabaya.
Itu sekelumit gambaran bisnis skala
besar. Untuk skala kecil, para pebisnis berinvestasi habis-habisan di
properti. Para pengusaha muda membeli rumah atau apartemen yang baru
diluncurkan. Mereka membeli pada penjualan perdana, lalu melepasnya
ketika proyek berjalan 50 persen atau baru selesai. Keuntungan yang
diperoleh antara 50 dan 200 persen.
Gambarannya begini. Ada
investor membeli proyek baru dengan harga Rp 1,8 miliar per unit. Ketika
proyek selesai dibangun, setahun atau dua tahun kemudian, harga rumah
sudah meluncur ke angka Rp 3,2 miliar. Dalam tempo satu atau dua tahun,
nilai rumah melonjak Rp 1,4 miliar. Bisa dibayangkan kalau seorang
pengusaha kelas menengah membeli 20 ruko, betapa besar keuntungan yang
ia peroleh.
Ada pula yang suka menyerbu ruko yang dibangun para
pengembang besar. Serbuan itu dilakukan karena ruko kini sangat disukai.
Kendati belum ada tanda-tanda dibangun, pembeli sudah membeludak.
Mereka menyukai produk ini karena likuid. Harga ruko umumnya paling
cepat menanjak, lebih cepat dibandingkan dengan harga rumah. Stok ruko
paling cepat disambar pembeli. Sebagian di antara pembeli ruko ini
adalah para investor yang hendak meraup laba besar.
Patut
diketahui bahwa bisnis dengan langgam seperti ini bukan bisnis dengan
masa depan gemilang. Akan tetapi, tunggu dulu, dalam kondisi sekarang
siapa yang hirau dengan jangka panjang atau tidak? Banyak yang berpikir
meraih laba secepat mungkin dalam persaingan bisnis yang ketat sekarang
ini.
Keuntungan yang diperoleh dari bisnis ruko itu bisa dipakai
sebagai modal awal bagi pengembang kecil. Pengembang seperti ini
biasanya membeli sebidang tanah untuk membangun lima sampai 20 ruko.
Lalu melompat lagi ke proyek lebih besar dan seterusnya sehingga ia bisa
menjadi pengembang yang diperhitungkan dalam lima hingga sepuluh tahun
mendatang.
Kisah ini sekadar gambaran atas sebuah celah bisnis yang bisa dikembangkan.
sumber: www.kompas.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar