Rasanya siapapun ingin berumur panjang dan tetap sehat. Makanya, apapun
akan dilakukan agar tubuh tetap awet muda. Salah satunya adalah dengan
menerapkan diet rendah kalori. Namun, penelitian terbaru justru
membantahnya.
National Institute on Aging (NIA) di
Amerika Serikat melakukan penelitian jangka panjang terhadap monyet
rhesus tentang efek diet rendah kalori terhadap kemungkinan panjang
umur. Hasilnya, pola makan ini memang dapat mencegah beberapa penyakit,
namun tidak memperpanjang umur.
Keyakinan bahwa diet rendah
kalori dapat memperpanjang umur bersumber pada sebuah penelitian di
tahun 1934. Kala itu, tikus, ragi, lalat buah, dan cacing gelang yang
diberi makan dengan kandungan kalori 10-40% lebih rendah dapat hidup 30%
lebih lama. Bahkan, di riset lain, hewan-hewan ini berumur dua kali
lebih panjang. Sejak saat itu, banyak yang percaya bahwa pembatasan
kalori dapat membuat panjang umur.
Untuk membuktikan
kebenarannya, dua tim peneliti terpisah menggunakan monyet rhesus.
Penelitian NIA dimulai pada 1987, sementara riset Wisconsin National Primate Research Center (WNPRC)
diawali dua tahun kemudian. Monyet rhesus dipilih karena fisiologi,
genetik, dan median jangka hidupnya (27 tahun) lebih dekat dengan
manusia dibanding tikus yang dipakai di penelitian dulu.
Ternyata
hasil akhirnya berbeda. Pada 2009, riset WNPRC menunjukkan bahwa 80%
monyet yang bebas memakan apa saja mati akibat penyakit seperti
diabetes, kanker, dan penyakit jantung. Angka ini lebih tinggi dibanding
monyet yang dibatasi asupan kalorinya, yakni 50%. Merekapun
berkesimpulan bahwa pembatasan kalori memperlambat proses penuaan pada
primata.
Riset NIA justru menyebut bahwa monyet yang mengonsumsi
kalori lebih sedikit tidak hidup lebih lama dibanding monyet lainnya.
Hal ini juga berlaku pada monyet yang memulai diet ini sejak usia 1-14
tahun. Ilmuwan NIA mengatakan bahwa kemungkinan mereka hidup lebih lama
dibanding monyet yang tak dibatasi makanannya kurang dari sepersepuluh
dari 1%.
Bahkan, kesehatan monyet yang memulai pembatasan kalori
sejak muda lebih buruk dibanding mereka yang mulai saat dewasa. Selain
itu, hewan yang mengurangi asupan kalori sejak kecil lebih banyak mati
karena penyakit yang tidak terkait penuaan dibanding hewan yang memakan
apa saja.
"Anda bisa mengatakan bahwa hewan yang dibatasi asupan
kalorinya lebih sehat. Kadar kolesterol, kehilangan massa otot, serta
risiko terkena penyakitnya lebih rendah, namun bukan berarti mereka akan
panjang umur. Dari studi ini bisa kita lihat bahwa kesehatan dan umur
panjang tidak saling berhubungan," jelas Steven Austad dari University of Texas Health Science Center, seperti dikutip dari Daily Mail.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar