Besaran kuota BBM subsidi tahun ini mencapai 40 juta kiloliter (KL), dan
akan ditambah 4 juta KL. Sebanyak 77% salah sasaran dan bahkan
diselundupkan. Adakan mafia BBM subsidi?
Anggota Komisi VII DPR
Satya W. Yudha mengatakan, mafia BBM skala besar memang sulit
dibuktikan. Tapi mafia ini tetap ada, pasalnya yang skala kecil saja
banyak dan nyata ada, apalagi yang skala besar.
"Susah-susah
buktikan, yang kecil saja banyak. Contoh ada SPBU yang kosong
premiumnya, tapi jalan beberapa meter dari SPBU tersebut sudah banyak
penjual BBM eceran pakai botol dengan harga Rp 7.000 per liter," ujar
Satya ketika dihubungi, Selasa (18/9/2012).
Satya bilang, menjadi
pertanyaan bagaimana para pedagang eceran ini mendapatkan BBM subsidi.
Menurutnya, bisa dia bekerjasama dengan SPBU dengan mengisi pakai drum
atau jeriken, atau memodifikasi tangki kendaraannya, atau bolak-balik
isi mengantre di SPBU.
"Yang seperti itu kan sudah merupakan penyalahgunaan BBM subsidi, tapi bisa ditindak? Sulit, kecil apalagi yang besar," ujarnya.
Contoh
lainnya, kata Satya, beberapa waktu lalu ada daerah (Kalimantan) yang
meminta tambahan BBM subsidi terutama untuk solar, padahal pertumbuhan
kendaraannya sedikit, namun pertumbuhan industrinya meningkat tinggi.
"Tidak perlu konsultan hebat untuk mengetahui ke mana larinya dan untuk apa permintaan tambahan BBM subsidi tersebut," ucapnya.
Dikatakan
Satya, daripada memusingkan untuk membuktikan mafia-mafia BBM subsidi
tersebut, lebih baik mengatasi masalah dari akarnya. Masalahnya apalagi
kalau bukan disparitas harga antara BBM subsidi dan non subsidi yang
terlampau lebar.
"Jika disparitas harganya makin dikecilkan
sehingga tidak terlalu menguntungkan lagi untuk dicuri, diselundupkan
atau apapun itu, mafia-mafia seperti ini juga lama-lama hilang
sendirinya," cetus Satya.
Menurut laporan Badan Pengatur Hilir
Minyak dan Gas (BPH Migas), seringkali terjadi penyelundupan BBM subsidi
yang jumlahnya lumayan. Terakhir, ada sekitar 1.700 KL BBM subsidi
diduga yang diselundupkan di Kalimantan. Bahkan ada juga oknum aparat
keamanan yang juga membekingi BBM subsidi untuk diselundupkan ke
industri.
Bahkan Menteri ESDM Jero Wacik mengakui, selama ini
penyelundupan BBM subsidi makin banyak karena harga BBM subsidi yang
terlalu murah yaitu Rp 4.500 per liter dibandingkan BBM non subsidi
sekitar Rp 9.700 per liter.
Jero Wacik tak menampik adanya
penyelundupan BBM subsidi. Bahkan menurut Jero, aksi penyelundupan BBM
subsidi makin banyak walaupun sudah banyak yang tertangkap. Hal ini
salah satunya disebabkan oleh makin lebarnya perbedaan harga antara BBM
subsidi dengan BBM non subsidi.
"Kita sudah tangkap mereka, tapi yang menyelundup makin banyak lagi, semakin banyak akal-akalan mereka", kata Jero.
sumber: www.detik.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar