Metrotvnews.com, Pekanbaru: Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Eyes on the Forest
membangun perangkat baru yang memungkinkan publik memvisualisasikan
hutan dan kehidupan liar di Sumatra, seperti badak, harimau, gajah dan
orangutan.
Perangkat itu juga memberikan informasi penting tentang penyelamatan
hutan alam dan keragaman hayati yang penting bagi dunia serta upaya
pemberdayaan masyarakat lokal.
Proyek pemetaan tersebut merupakan sumbangan pertama dari tim Google
Earth Outreach untuk penggunaan Google Maps Engine, sarana hosting,
penyimpanan, dan pengelolaan data peta.
"Peta merupakan alat yang tepat untuk memberikan informasi penataan
ruang untuk menyelamatkan hutan tropis. Kerja sama Google Earth, WWF,
dan Eyes on the Forest semakin mempermudah pembuatan peta, sehingga peta
tidak lagi hanya dimengerti orang-orang dengan spesialisasi tertentu,"
kata Direktur Konservasi WWF-Indonesia Nazir Foead, Kamis (24/5).
Hutan alam di Sumatra yang sekaligus menjadi habitat bagi badak, gajah,
harimau, dan orangutan telah menyusut sangat cepat. Sekitar 50 persen
hutan alam Sumatra telah hancur sejak 1985. Kebanyakan disebabkan oleh
penebangan untuk kebutuhan produksi kertas dan kelapa sawit.
Peta itu menggambarkan secara detil penyempitan dan hilangnya wilayah
jelajah empat satwa kunci Sumatra dari waktu ke waktu. Pemetaan akan
memberikan gambaran tentang tutupan hutan, penggunaan lahan, dan
keanekaragaman hayati yang dikumpulkan dari hasil kerja lapangan selama
puluhan tahun di Sumatra.
Peta-peta yang ditampilkan juga akan memberikan gambaran tentang
nilai-nilai ekologis dan kultural Sumatra yang luar biasa,
keanekaragaman hayati, dan kehidupan liarnya yang menakjubkan, serta
cadangan karbon di lahan gambut yang sangat besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar