Jakarta, Saat
ini asuransi kesehatan menyeluruh atau universal health coverage belum
bisa diterapkan di Indonesia. Salah satu hal yang menyulitkan karena
masih banyak yang belum rela asuransi orang miskin dibayar oleh
pemerintah.
PLT Menkes RI yang juga wamenkes Prof Ali Gufron
menuturkan saat ini kondisi negara yang mirip dengan Indonesia dan sudah
bisa menjalankan universal health coverage adalah Brazil, Meksiko dan
Thailand.
"Ketiga negara ini hampir mirip dengan Indonesia
dilihat dari pendapatan per kapitanya, mereka sudah bisa menjalankan
tapi di kita lebih kompleks dan dinamis," ujar Prof Ali Gufron dalam
acara temu media di Gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (31/5/2012).
Prof
Ali menuturkan peserta dari negara-negara ini dibagi menjadi 3 kelompok
yaitu kelompok peserta formal pegawai negeri, peserta formal non
pegawai negeri serta kelompok peserta informal.
Untuk kelompok
peserta formal baik yang pegawai negeri maupun non pegawai negeri
membayar iuran asuransi sendiri, sementara yang informal dibayarkan oleh
pajak pemerintah. Namun jika ada peserta informal yang menjadi formal,
maka ia harus membaya iuran sendiri.
"Hal ini di kita yang sulit karena masih banyak yang tidak rela kalau peserta informal dibayar oleh pemerintah," ujar Prof Ali.
Prof
Ali menjelaskan padahal jika peserta informal harus membayar sendiri
maka butuh cost untuk mengumpulkannya. Petugas harus mencari dulu dimana
para petani tinggal lalu mengumpulkannya satu-satu.
"Misalnya
iurannya Rp 10.000 per bulan, kalau informal bayar sendiri bisa jadi
cost untuk mengumpulkan yang informal ini sama atau lebih besar
dibandingkan dengan iuran yang dibayar," ungkapnya.
Untuk itu
penerapan universal health coverage di Indonesia lebih kompleks dan juga
dinamis. Prof Ali menuturkan pekerjaan di Indonesia lebih berat karena
itu kerjaan Dirjen di sini juga lebih berat.
Universal health
coverage menjadi salah satu isu di dalam pertemuan World Health Assembly
(WHA) ke-65 di Jenewa, Swiss yang mana sekitar 60 negara mengangkat isu
ini untuk meningkatkan akses kesehatan masyarakat.
Beberapa
begara meminta ke WHO dalam hal bantuan teknis, meski tidak dijelaskan
bantuan seperti apa yang dibutuhkan. Tapi umumnya jika menyangkut teknis
maka bisa berupa konsultan, pemikiran pengembangkan atau chanel ke
lembaga keuangan.
sumber: www.detik.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar